Akustik ruang merupakan aspek krusial pada bangunan gereja, sayangnya hal ini justru kerap terabaikan sehingga berbagai masalah akustik seperti gema yang sangat panjang, persebaran suara yang tidak rata, suara musik dan paduan suara yang tumpang tindih terjadi.
Melalui artikel ini kita akan mencari solusi untuk mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut dimulai dari yang paling dasar.
Masalah Akustik Tidak Cukup Upgrade Sound System
Gema yang berlangsung lama akan mengaburkan kejelasan ucapan pembicara dan membuat suara musik tumpang tindih. Masalah ini tidak cukup diatasi dengan cara upgrade sound system dan melakukan pengaturan sound sedemikian rupa. Gema harus diatasi dengan cara “mengobati” fisik bangunan gereja, khususnya bagian dalam hall yang digunakan untuk ibadah.
Gereja terdiri dari permukaan-permukaan keras dan padat, beberapa gereja memiliki plafon yang sangat tinggi. Kondisi seperti ini merupakan “habitat” gema. Sehingga agar gema dapat dijinakkan, kita perlu memodifikasi habitatnya dengan cara meminimalkan permukaan-permukaan keras dan padat.
Sementara gereja berukuran besar dengan langit-langit tinggi kerap mengalami masalah distribusi suara yang tidak seimbang. Sering kali hanya jemaat yang dekat dengan mimbar maupun speaker yang dapat mendengar dengan jelas. Mereka yang duduk jauh dari mimbar dan speaker mungkin hanya menangkap beberapa kata atau mendengar akhir kalimat.
Untuk masalah yang satu ini, solusinya adalah dengan menggunakan alat yang dapat memecah dan menyebarkan gelombang suara, dan alat yang dapat mengarahkan gelombang suara ke para jemaat. Alat tersebut merupakan panel diffuser dan panel reflektor yang justru bersifat padat dan keras.
Mengukur Durasi Gema di Dalam Gereja
Seberapa lama gema terjadi akan memengaruhi kualitas suara. Semakin lama gema berlangsung maka semakin tidak jelas suara di dalam gereja, khususnya suara ucapan dan vokal manusia. Durasi berlangsungnya gema ini disebut reverberation time.
Berapa reverberation time yang ideal untuk gereja? Tergantung jenis dan ukuran gereja. Gereja Katolik umumnya disarankan memiliki reverberation time yang lebih tinggi dibandingkan gereja Protestan karena suasana ibadah di kedua gereja tersebut berbeda.

Berdasarkan grafik di atas, reverberation time yang ideal pada gereja Katolik antara 0,9 - 2,3 detik. Sementara pada gereja Protestan antara 1,3-1,6 detik.
Sekarang Anda perlu mengukur berapa reverberation time aktual di dalam gereja Anda. Anda dapat mengukurnya menggunakan Sound Level Meter yang dilengkapi dengan pengukur reverberation.
Jika hasil pengukuran menyatakan bahwa gema yang terjadi lebih tinggi dibandingkan standar pada grafik di atas maka Anda perlu meredam gema tersebut hingga mencapai ketentuan reverberation time atau mendekati.
Panel Absorber untuk Gereja
Berbagai macam panel absorber dapat digunakan untuk mengatasi gema di dalam gereja. Namun, secara umum terdapat dua jenis panel absorber, yaitu fabric absorber dan perforated absorber.
Fabric absorber merupakan panel absorber yang terdiri dari material penyerap suara + kain berpori. Sementara perforated absorber merupakan panel absorber yang terdiri dari material penyerap suara + panel berperforasi. Panel berperforasi tersebut dapat berupa panel gypsum, MDF maupun kayu.
Perbedaan fabric absorber dan perforated absorber adalah jika keduanya memiliki rentang penyerapan yang sama, misal mid to high frequency maka panel perforated absorber dapat menarget frekuensi spesifik tertentu pada rentang tersebut yang dianggap terlalu mendominasi. \
Di samping itu, panel perforated yang terbuat dari material yang cenderung keras menyebabkan penyerapan tidak terlalu berlebih sehingga suasana di dalam gereja terasa lebih hidup.
Pada beberapa kasus, kedua jenis panel ini dapat digunakan bersamaan. Contohnya pada Gereja Pantekosta di Tulungagung yang treatment akustiknya telah MyStudio selesaikan.
Perbedaan Panel Diffuser dan Reflektor
Panel diffuser dan reflektor terbuat dari material yang keras dan padat sehingga keduanya bersifat memantulkan gelombang suara. Namun, panel diffuser akan memecah gelombang suara sebelum memantulkannya kembali, sementara panel reflektor hanya memantulkan.
Berdasarkan arah persebaran suaranya, panel diffuser dibedakan menjadi dua jenis, yaitu panel diffuser 1D dan panel diffuser 2D. Panel 1D akan menyebarkan gelombang suara yang telah dipecah ke satu arah, yaitu secara vertikal saja atau secara horizontal saja (contoh: linear diffuser). Sementara panel 2D akan menyebarkan gelombang yang telah dipecah ke dua arah, horizontal sekaligus vertikal (contoh: skyline diffuser).
Sementara panel reflektor terdiri dari berbagai jenis. Bentuk yang paling sering dijumpai adalah berbentuk lembaran bergelombang yang kerap dipasang di langit-langit ruangan.
Bentuk lain yang kerap digunakan adalah bentuk setengah tabung dan bentuk piramida. Panel reflektor jenis ini dapat digunakan pada dinding maupun langit-langit ruangan.
Bentuk panel reflektor dan ke mana sudut panel diarahkan memengaruhi arah pemantulan gelombang suara.
Gabungkan Panel Absorber, Diffuser, dan Reflektor
Panel absorber adalah treatment paling dasar yang wajib dilakukan bahkan tanpa mempertimbangkan diffuser dan reflektor, panel absorber merupakan treatment wajib.
Selanjutnya, pada banyak kasus, panel diffuser dan reflektor dapat ditambahkan, digunakan bersama dengan panel absorber.
Berapa perbandingan jumlah panel absorber, diffuser, dan reflektor? Di mana saja panel-panel ditempatkan? Hal ini perlu ditentukan setelah mengetahui kondisi bangunan gereja seperti berapa tingginya, di mana saja posisi mimbar, jarak antara bangku jemaat dengan atap, apa saja material bangunan yang digunakan pada gereja, dan berbagai pertimbangan lain. Oleh karena itu sebaiknya konsultasikan dengan ahli akustik profesional.
Temukan lebih banyak informasi seputar solusi masalah akustik di Instagram, TikTok, dan Youtube MyStudio Acoustic. Cek galeri kami untuk melihat contoh hasil pekerjaan kami.